Intubasi pemasangan ett

Kiat Persiapan dan Tindakan Intubasi

Tindakan Intubasi Endotracheal tube (ETT) merupakan prosedur resusitasi penting dalam kondisi darurat. Indikasi untuk pemasangan ETT Seperti perubahan status mental "penurunan kesadaran", ventilasi dan oksigenasi tidak adekuat.

Artikel kali ini bertujuan untuk menjelaskan prosedur tindakan Intubasi. Luangkan waktumu 5 menit kedepan. Fokus memahami materi ini. Kami percaya 5 menit ke dua di lain waktu kamu mengulang kembali akan memberikan pemahaman lebih kuat tentang materi ini"Intubasi Endotrakeal".

Kiat Persiapan dan Tindakan Intubasi

Intubasi endotrakeal umumnya dimaksudkan untuk membebaskan jalan napas. Teknik yang umum dilakukan menggunakan laringoskop atau laringoskop video untuk memvisualisasi pita suara.

Indikasi Pemasangan ETT

Tujuan intubasi /pemasangan ETT dalam kondisi emergency adalah membebaskan jalan napas. Beberapa kondisi dibawah ini merupakan kondisi yang memerlukan intubasi Endotrakeal :

  1. Pernapasan tidak adekuat
  2. Penurunan usaha napas
  3. Hipoksia
  4. Hiperkarbia
  5. Kondisi trauma GCS 8

Kondisi diatas membahayakan, tingkat kesadaran, laju pernapasan, asidosis respiratorik, dan tingkat oksigenasi. Jika terus berlanjut tentunya mengancam jiwa. penilaian secara continues dilakukan sebagai evaluasi terhadap indikasi pemasangan ETT.

Kontra Indikasi Pemasangan ETT

Dalam prosedur pemasangan ETT mempertimbangkan manfaat dan resiko perlu dilakukan. Jika penggunaan bantuan nafas dengan non invasif dapat memperbaiki status pernapasan pasien maka tindakan ini menjadi pilihan sebelum intubasi.

Trauma orofasial yang parah dapat menghalangi intubasi. Orofaringeal karena perdarahan yang signifikan atau gangguan anatomi wajah dan saluran napas bagian atas.

Tidak ada kontraindikasi absolut intubasi. Namun mempertimbangkan kondisi pasien dalam tindakan definitif harus dikaji.

Kontra Indikasi Pemasangan ETT

Persiapan peralatan untuk intubasi antara lain:

  1. Akses Intravena
  2. Stetoskop
  3. Oksimetri nadi, saturasi oksigen
  4. Suction catheter, Mesin suction
  5. Obat intubasi (paralitik, sedatif, dan atau agen disosiatif)
  6. Masker bag-valve dengan masker sesuai ukuran
  7. Positive end-expiratory pressure (PEEP) valve
  8. Oral dan Nasal airways sesuai ukuran
  9. Oksigen tambahan
  10. Set Laringoskop atau Laringoskop video dengan blade sesuai ukuran pastikan lampu menyala
  11. Endotracheal tube dengan berbagai ukuran disesuaikan dengan pasien
  12. Stylet
  13. Spuit 10 cc
  14. Stylet
  15. Forcep Magill

Tim terlatih minimal terdiri dari :

  • intubator pertama(1)
  • pengelola obat + pengamat keadaan klinis pasien dan pemantau (monitor) + intubator kedua + Leader(2)
  • Cricoid dan peralatan(3)
  • peralatan jalan napas(4)
  • pelari untuk mengambil peralatan tambahan atau meminta bantuan(5)

Prosedur tindakan intubasi endotrakeal wajib dilakukan oleh petugas terlatih.

Salah satu metode yang umum digunakan untuk mengevaluasi jalan napas adalah "LEMON" (Look, Evaluate, Mallampati, Obstruction, Neck)

Pengaturan Posisi Pasien Posisi kepala perlu diperhatikan agar pita suara terlihat jelas. Sniffing Position merupakan posisi optimal karena menyelaraskan sumbu mulut, faring, dan laring. ini memudahkan laringoskop masuk.

Endotrakeal Tube (ETT)

Pilihan ETT biasanya menggunakan ukuran 7,0 - 8,0 baik cuff maupun non cuff, namun perlu dinilai ukurannya pada pasien. Variasi ukuran tergantung pada tinggi dan usia pasien.

Untuk anak-anak, ukuran pipa ETT (Endotracheal tube) dipilih menggunakan rumus estimasi, berikut rumus eet anak, dan rumus kedalam ett anak :

Ukuran = [(Usia/4) + 4] untuk pipa ETT un-cuffed

Ukuran = [(Usia/4) +3,5] untuk pipa ETT Cuffed


UKURAN ETT
estimasi ukuran ett pada pediatric


Referensi :
  • Andrea C. Alvarado; Patricia Panako. Endotracheal Tube Intubation Techniques - StatPearls - NCBI. Bookshelf (nih.gov). Last Update: July 13, 2022.
  • Adewale L. Anatomy and assessment of the pediatric airway. Paediatr Anaesth. 2009 Jul;19 Suppl 1:1-8. doi: 10.1111/j.1460-9592.2009.03012.x. PMID: 19572839.
  • Sitzwohl C, Langheinrich A, Schober A, Krafft P, Sessler D I, Herkner H et al. Endobronchial intubation detected by insertion depth of endotracheal tube, bilateral auscultation, or observation of chest movements: randomised trial BMJ 2010; 341 :c5943 doi:10.1136/bmj.c5943.
  • Carlee A. Clark, Robert A. Mester, Amanda T. Redding, Dulaney A. Wilson, Lydia L. Zeiler, Wanda R. Jones, Jerry G. Reves, Scott T. Reeves, John J. Schaefer. (2022) Emergency Subglottic Airway Training and Assessment of Skills Retention of Attending Anesthesiologists With Simulation Mastery-Based Learning.
  • Anesthesia & Analgesia 135:1, 143-151.Online publication date: 10-Feb-2022.
Next post Artikel Terkait aktif bila list materi dibawah ini berwarna biru:

Baca Juga :

  • Pernapasan fisiologis
  • Kiat persiapan dan tindakan intubasi
  • Menentukan ukuran dan kedalam insersi ETT
  • Memahami Ventilator Mekanik
  • Memahami mode ventilator mekanik lebih lanjut
  • Setting awal ventilator mekanik
  • Memahami grafik ventilator mekanik
  • Weaning ventilator mekanik
  • Syarat ekstubasi
  • Pilihan penggunaan sedasi pada pasien dengan ventilator mekanik
  • Troubleshoot pada ventilator mekanik
  • Kalibrasi ventilator mekanik
  • Penggunaan humidifier pada ventilator mekanik
  • Penggunaan bacterial filter pada ventilator mekanik
  • Waspada mukus plug pada endotrakeal tube (ETT)
  • Mencegah Ventilator Associated Pneumonia (VAP)
  • Oral hygiene pada pasien dengan ventilator mekanik
  • Teknik suctioning dengan ventilator mekanik
  • Fisioterapi pada pasien dengan ventilator mekanik
  • Penggunaan ventilator pada pasien trakeostomi
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url